Jember:Jember, sebuah kota kecil di Jawa Timur, kini punya lapangan terbang. Peresmiannya sendiri dilakukan pada hari Minggu pagi tadi (9/1) oleh Mantan Presiden Abdurrahman Wahid, bersama Menteri Perhubungan, Hatta Radjasa dan Menteri Negara Percepatan Daerah Tertinggal, Saefullah Yusuf serta sejumlah anggota Komisi V DPR dengan pesawat Foker 27 Syaloom, dengan menguji coba landasan penerbangan Bandar Udara Noto Hadi Negoro, di Desa Wirowongso, Kecamatan Ajung, Jember.Pesawat milik maskapai penerbangan Germania Trisila (GT) Air ini diterbangkan oleh pilot Kapten Sutopo, co pilot Rudi Kurniawan dan Kapten Buntoro,terbang dari Surabaya sekitar pukul 08.00, mendarat pukul 08.45. Tepuk tangan antusias dari masyarakat yang membanjiri lapangan di tepi landasan terdengar, begitu pesawat tersebut mendarat.
Sejak pagi, ribuan masyarakat Jember datang menuju ke bandara. Mereka datang berombongan bersama keluarga, karena ingin menyaksikan sendiri pendaratan perdana tersebut. Aparat keamanan dikerahkan untuk mengamankan dari kehadiran warga landasan pacu. Karena dalam prooving flight sehari sebelumnya, anggota masyarakat berjejalan tepat di sepanjang tepi landasan pacu.
Menteri perhubungan, Hatta Radjasa, menyambut baik pembangunan bandara tersebut. "Saya beri penghargaan tinggi kepada Pemerintah Kabupaten Jember yang telah membangun lapangan terbang ini dengan APBD,"katanya. Menurutnya, keberadaan bandara tersebut akan memperlancar transportasi dari Surabaya ke wilayah ujung timur Jawa. Selama ini, ujung timur Jawa belum memiliki lapangan terbang yang bisa menguntungkan secara ekonomi. "Dengan airport ini, di samping memperlancar transportasi, juga akan membuat akselerasi pertumbuhan ekonomi di Jember meningkat,"ujar Hatta.
Saat ini, Pemerintah Kabupaten Jember telah menghabiskan biaya sekitar Rp 12,5 Miliar yang berasal dari APBD 2003 dan 2004. Untuk APBD 2005, Pemkab mengajukan tambahan anggaran sebanyak Rp 10 Miliar untuk membenahi beberapa fasilitas. "Total diperkirakan, bandara ini bakal menghabiskan sekitar Rp 54 Miliar,"kata Samsul. Karena itu, Pemkab sangat mengharapkan bantuan dana dari APBN.
Menurut rencana, penerbangan di Jember akan dikelola oleh PT. Jember Satama Airlines. Setelah terbuka untuk umum maka dengan rencana tarif Rp. 150.000, untuk penerbangan Jember-Surabaya dan Jember–Denpasar.Harapan masyarakat Jember dengan adanya lapter ini dalam 10 tahun ke depan bandara di Jember akan besar. Hal ini dikarenakan banyak barang-barang di Jember yang bisa diekspor dan membutuhkan lapangan terbang yang besar pula. Sehingga akan meningkatkan perekonmian Jember yang membawa dampak semakin tingginya kesejahteraan masyarakat Jember khususnya















Semboro Sugar Factory, 35 km west of Jember, was built during the Dutch colonial period by Handles Vereniging Amsterdam (a Dutch private company) in 1921 with 2103 hectares of sugar cane fields which spread out in the western and the northern part of Jember. In the Japanese colonial period, sugar producing activities stopped and it was changed to a soda factory to fulfill the needs of the Japanese government. A few years after Indonesian Independence Day, in 1949, it became an ammunition factory to provide supplies for the Indonesian freedom fighters against the colonialists seeking to reoccupy Indonesia. From 1950 to 1957 the milling activities began producing sugar which was already taken over by the Indonesian government. Due to its demands since 1978, the Semboro Sugar Factory has tried to increase its production from 24.000 kw to 54.000 kw per day. Foreign visitors can take a nostalgic tour by steam locomotive for 2 hours and can enjoy the beautiful scenery along the way. Semboro Sugar Factory is about 120 minutes from the center of Jember and visitors can hire a car to reach this destination. 


